Saturday, June 20, 2009

Kehadiran A Mild tahun 1989 mengubah lanskap bisnis rokok nasional. Hampir semua produsen rokok ikut meramaikan persaingan di kategori rokok ringan ini. Perang komunikasi dan bajak-membajak tenaga kerja pun tak terelakkan.

Menjelang tutup tahun 1989, industri rokok di Indonesia dikagetkan oleh langkah berani PT HM Sampoerna Tbk. (HMS). Produsen rokok keretek Dji Sam Soe ini meluncurkan produk terbarunya yang tergolong unik. Kenapa unik? Karena produk itu tidak masuk dalam tiga kategori besar rokok yang ada saat itu, yaitu sigaret keretek tangan (SKT), sigaret keretek mesin (SKM) reguler, dan sigaret putih mesin (SPM). Lewat produk yang diberi merek A Mild, HMS membuat sebuah kategori baru: SKM mild.

HMS jelas serius menggelontorkan A Mild. Ia membutuhkan waktu hingga lebih dari dua tahun untuk proses persiapannya. Maklum, saat itu tidak ada benchmark produk yang dapat dijadikan acuan, termasuk di pasar internasional. Yang ada cuma berbagai survei dan riset yang melibatkan konsumen. Termasuk di antaranya, uji buta yang tidak hanya dilakukan sekali, tapi beberapa kali di beberapa kota.


Entah berapa banyak dana yang dikucurkan HMS dalam meracik A Mild. Namun, Putera Sampoerna yang kala itu menjabat Presiden Direktur HMS tetap ngotot untuk dapat menimang bayinya itu. “Sejak awal A Mild sudah dirancang untuk menjadi produk yang tidak ada duanya di pasar domestik,” ungkap Muhammad Warsianto, salah satu tokoh kunci di balik lahirnya A Mild.

amild.jpeg

Putera memang punya ambisi yang besar. Tidak hanya bagi perusahaannya, Putera juga menyimpan ambisi pribadi untuk menghasilkan produk baru yang sukses di pasar. Maklum, sebagai pemegang tongkat estafet di perusahaan keluarganya, Putera boleh dibilang gbelum menghasilkanh, kecuali melanjutkan produk-produk yang telah ada dari generasi sebelumnya.

Di generasi pertama, tahun 1913, Liem Seeng Tee sebagai pendiri HMS melahirkan produk yang hingga saat ini masih menjadi tulang punggung HSM, yakni Dji Sam Soe. Jejak Liem juga diikuti oleh putranya, Liem Swee Ling atau yang lebih dikenal dengan nama Aga Sampoerna dengan meluncurkan Sampoerna A (sekarang dikenal dengan merek Sampoerna Hijau – Red.) tahun 1968. Meski tak sesukses Dji Sam Soe, Sampoerna A mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap total pendapatan HMS.

Nah, Putera yang mulai aktif di perusahaan tahun 1970-an dan mulai memegang tampuk pimpinan tahun 1980-an, hingga saat itu belum menghasilkan produknya sendiri. Padahal dari sisi manajerial, kinerja Putera tergolong sangat bagus. Dialah yang membawa HMS masuk ke kategori SKM dengan investasi yang tergolong sangat besar, yaitu US$ 25 juta. Namun itu belum membuat Putera puas. Pasalnya, di era kepemimpinannya ia belum bisa melahirkan produk yang sukses di pasar.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu tibalah. Senin, 18 Desember 1989, HMS secara resmi meluncurkan A Mild ke pasaran. Senyum puas tampak jelas di wajah Putera. Bahkan, Putera pun tak ragu untuk membubuhkan nama dan tanda tangannya pada kemasan A Mild.

Kehadiran A Mild tak membuat kompetitor HMS gentar. Mereka bahkan seolah-olah mencibir pada rokok yang mengusung tema komunikasi Taste of the future itu. Parahnya, tidak hanya kompetitor yang mencibir. Konsumen pun memberi cibiran yang tak kalah pedas. Maklum, konsumen yang sudah terbiasa dengan jenis rokok yang sudah ada (SKT, SKM dan SPM – Red.), A Mild dianggap sebagai rokok yang tidak berasa apa pun.

“A Mild menghadapi tantangan berat karena konsumen memosisikannya sebagai rokok putih, sehingga kesannya kurang macho,” ungkap Surja S. Handoko, CEO Colman Handoko yang juga mantan Direktur Pemasaran HMS. Penjualan rokok low tar low nicotine (LTLN) dari HMS itu seret. Bahkan, hingga tiga tahun sejak peluncurannya (1992 – Red.), penjualan A Mild masih tertinggal jauh dibanding kategori lainnya. Dari total produksi rokok nasional yang sebesar 152,7 miliar batang (berdasarkan pembelian pita cukai), A Mild hanya memberi kontribusi 0,33%, atau 0,5 miliar batang. Bandingkan dengan SKM reguler yang produksinya mencapai 94,2 miliar batang, atau 61,69% total produksi rokok nasional.

Ini jelas bukan kondisi yang nyaman bagi HMS. Padahal, tidak sedikit sumber daya yang telah gdibuangh untuk mengerek rokok yang memang sama sekali baru bagi industri rokok ini – termasuk di industri rokok dunia — termasuk mengubah kemasan, dari 20 batang menjadi 16 batang. Kendati demikian, Putera tetap yakin dan percaya bahwa A Mild akan berjaya dan menganggap semua itu sebagai angin lalu.

Baru di tahun 1994, A Mild meninggalkan tema kampanye lamanya Taste of the future dan menggantinya dengan How low can you go? Dengan bahasa yang lebih membumi dan agak provokatif, HMS seolah-olah ingin membuat konsumen berpikir ulang tentang produk yang selama ini mereka kenal dan gunakan.

Cara ini terbukti efektif. Tahun 1994, penjualan A Mild melonjak tiga kali lipat — dari sebelumnya hanya 18 juta batang per bulan menjadi 54 juta batang per bulan. Dan seiring bergulirnya waktu, penjualan A Mild pun terus beranjak naik. Tahun 1996, A Mild sudah menembus penjualan sebanyak 9,8 miliar batang, atau 4,59% total penjualan rokok nasional. Tahun-tahun berikutnya, sepertinya menjadi masa keemasan A Mild atau rokok mild secara keseluruhan. Terakhir (2005), rokok SKM mild sudah mengambil porsi 16,97% total rokok nasional.

Meledaknya penjualan A Mild membuat pemain lain kepincut untuk masuk ke kategori SKM mild. Tahun 1997, secara hampir bersamaan, dua musuh bebuyutan HMS: PT Djarum dan PT Bentoel Prima (BP), ikut mencari peruntungan di kategori ini. Djarum mengusung merek LA Lights, sedangkan BP mengibarkan Star Mild.

starmild.jpeg

Masuknya BP ke kategori ini tak lain karena pada saat itu Warsianto, yang punya kontribusi cukup besar dalam proses kelahiran A Mild, sudah mendarat di BP. Seperti halnya di HMS, Warsianto memimpin lahirnya produk baru ini, bahkan dari mulai bentuk proposal. Dengan slogan: Losta masta, Star Mild menantang A Mild, di wilayah Jawa Barat, khususnya Bandung (sebelum dipasarkan secara nasional, awalnya Star Mild hanya dipasarkan di wilayah Ja-Bar – Red.). “Kami ingin menguji seluruh elemen pemasarannya lebih dahulu,” ungkap Ginawati Wibowo, Chief Marketing Office BP.

Jika kandungan tar dan nikotin A Mild adalah 14 mg dan 1,0 mg sehingga berani keluar dengan kampanye How low can you go?, Star Mild lebih rendah lagi, yaitu 12 mg dan 0,9 mg. Ini dijadikan senjata untuk menantang A Mild lewat kampanye bertema: Lower than low. Dan, karena pasar sudah relatif terbentuk, Star Mild dapat lebih cepat diterima pasar. Apalagi posisi harga Star Mild yang berada di bawah A Mild juga sangat cocok dengan kondisi saat itu, di mana krisis ekonomi mulai melanda negeri ini.

Tah heranlah, di tahun pertamanya saja, produksi Star Mild sudah mencapai 754 juta batang; kemudian meningkat menjadi 1,87 miliar batang di tahun 1998; dan 2,9 miliar batang tahun 1999. Tahun 2000, menurut data ritel AC Nielsen, Star Mild telah menguasai 3% pangsa pasar rokok secara keseluruhan, dan semakin dekat dengan A Mild yang menguasai 4,1% pasar rokok nasional.

Kehadiran Star Mild cukup membuat HMS gerah. Namun, HMS tidak kehabisan ide dalam menghadapi Star Mild. Sadar bahwa A Mild bukan lagi yang terendah dalam hal tar dan nikotin, HMS meluncurkan tema kampanye baru yang secara terbuka menyerang para pengekornya, lewat slogan citra (tag line): Others can only follow. “Slogan ini bertujuan untuk semakin mengokohkan leadership A Mild di pasar rokok mild Indonesia, karena semakin banyaknya merek rokok mild baru yang bermunculan,” ungkap Sendi Sugiharto, Kepala Kategori LTLN HMS.

Melihat perkembangan Star Mild yang cukup oke, kuartal ketiga tahun 1999 BP memberanikan diri melempar produk mild keduanya, Bentoel Mild. Bahkan, produk ini diposisikan untuk langsung berhadapan dengan A Mild dan LA Lights, setidaknya dari sisi harga.

Memasuki era tahun 2000-an, pertarungan di segmen SKM mild kian ramai. PT Gudang Garam Tbk. (GG) yang sebelumnya seperti tidak berminat untuk masuk ke kategori ini akhirnya tak kuasa menahan godaan potensi pasar kategori yang memang terus berkembang ini. Pada September 2002 GG resmi melepas Gudang Garam Surya Signature. gSudut pandang bahwa GG terlambat dalam memasuki segmen SKM mild saya kira perlu diluruskan. Apakah menjadi keharusan bagi produsen rokok memasuki segmen SKM mild? Kalau benar, apa dasar yang melandasinya?h ungkap sumber SWA di GG dengan nada kesal.

Diakuinya, segmen SKM mild memang berkembang. “Tapi itu kan baru beberapa tahun belakangan. Jangan lupa, dalam menggembala A Mild, HMS harus berada dalam kondisi merugi sekitar 7 tahun, terhitung sejak dilahirkan,” ungkapnya lebih lanjut.

Dia menambahkan, dalam meluncurkan produk baru, GG menerapkan asas kehati-hatian dan tidak berpikir pada kerangka emosional. Karenanya GG tidak mau latah untuk langsung terjun ke segmen SKM mild begitu tahu pemain lain memasuki segmen itu. Saling bertempur menggunakan strategi komunikasi sama, maka otomatis akan ada yang bakal jadi korban. “Sudah energi dan dana yang dikucurkan tidak sedikit, eh malah hancur lebur,” ujarnya. Karena itu, menurutnya masuknya GG ke SKM mild tahun 2002 merupakan waktu yang tepat, di mana pasar SKM mild sudah benar-benar berkembang. “Jangan sampai ketika GG masuk, ternyata besaran pasarnya hanya semu. Tidak sebesar sebagaimana citra yang ditampilkan oleh produsen sebelumnya. Kalau itu yang terjadi, kehadiran GG justru makin mendongkrak popularitas sang pendahulu,” ia menjelaskan.

Karena itulah, GG tidak sembarang memasuki segmen SKM mild. Jika pemain lain masuk dengan ukuran diameter slim, GG menawarkan hal baru, SKM mild diameter reguler. Pembeda ini, menjadikan GG tidak bertempur head to head dengan HMS, BP ataupun Djarum. “Jika semua menjadikan anak muda sebagai target pasar. Kami menyasar kalangan di atasnya, yakni eksekutif mapan. Kalau diandaikan dengan manusia, umurnya berada di atas 30 tahun,” ia menguraikan.

Harus diakui, kategori SKM mild memang punya daya magnet yang luar biasa. Tak terkecuali produsen rokok gkecilh sekelas Nojorono pun turut gberjudih di kategori ini. Setelah berhasil membujuk Warsianto untuk turun gunung (setelah lepas dari BP, Warsianto sempat pensiun – Red.), perusahaan asal Kudus yang menggunakan bendera PT Nojorono Tobacco Indonesia (NTI) ini pun ikut meramaikan pesta mild lewat merek Clas Mild.

clasmild.jpeg

Dibanding rokok mild lainnya, Clas Mild menyasar konsumen yang lebih bawah. Kondisi makroekonomi yang belum pulih benar akibat dihantam krisis tahun 1997, sepertinya menjadi pembenaran bagi NTI yang mengklaim memberikan perceived value yang lebih kepada konsumen, walaupun harganya relatif lebih murah. Clas Mild pun mendapat sambutan yang sangat baik dari konsumen.

Kehadiran Clas Mild ternyata cukup mengusik posisi Star Mild. Untuk menghambat Clas Mild, BP pun mengambil manuver berani dengan meluncurkan rokok mild ketiganya, X Mild yang dari posisi harga sengaja dirancang setara dengan Clas Mild.

Toh, menuver itu tidak banyak berarti. Clas Mild terus melambung. Puncaknya, pada pertengahan 2005, Clas Mild bertengger di posisi kedua kategori SKM mild dengan menggeser Star Mild yang sudah sekian lama duduk di posisi itu. Sebuah prestasi fenomenal yang belum mampu dilakukan oleh saudara sekotanya yang sebenarnya punya amunisi jauh lebih banyak, Djarum.

Upaya yang dilakukan Djarum untuk melambungkan LA Lights bukan tidak ada. Segala daya dan upaya sudah dilakukan. Tema komunikasinya pun berulang kali diubah. Demikian pula dengan uang gdibuangh yang jumlahnya tidak sedikit. Toh, LA Lights tak kunjung lepas landas, malah selalu dilangkahi oleh produk-produk lain yang muncul belakangan, termasuk Clas Mild yang dari sisi perusahaan tidak ada apa-apanya dibanding Djarum.

Tak hanya BP yang waswas melihat pergerakan Clas Mild. HMS yang begitu percaya diri pun melakukan manuver untuk membendung Clas Mild. Dengan menggunakan kendaraan PT Asia Tembakau, HMS mendarat di pasar SKM mild level bawah lewat merek U Mild. Namun demikian, HMS mengelak jika U Mild disebut sebagai fighting brand bagi A Mild. “Seperti hadirnya Sampoerna Hijau yang sama-sama SKT dengan Dji Sam Soe. Jadi tidak benar U Mild lahir sebagai fighting brand A Mild, tetapi demi meramaikan pangsa pasar rokok mild, khususnya yang menyasar kelas B-C. Alasan lain, demi semakin mengokohkan HMS sebagai pemimpin pasar di kategori rokok mild di Indonesia,” kilah Sendi.

Terakhir, di penghujung tahun 2005, Djarum menunjukkan rasa penasarannya untuk menaklukkan – setidaknya bicara banyak – di kategori ini dengan meluncurkan Djarum Super Mezzo. Nama besar Djarum Super tetap disertakan untuk membuat produk ini langsung take off mengikuti jejak produk andalan keluarga Hartono itu. Kehadiran Mezzo semakin memperpanjang deret merek rokok mild yang kabarnya telah menembus angka 100 merek – termasuk yang diproduksi oleh home industry.

Apa rahasia kesuksesan Clas Mild? “Kami tidak pernah main-main dalam hal kualitas. Rokok adalah sebuah produk rasa. Keberhasilan produk rokok dapat diterima pasar sangat tergantung pada kualitas rasa yang ditawarkannya,” tutur John Dharma J.K., Direktur Pemasaran NTI. Selain itu, NTI juga sangat memperhatian citra produknya. Karena itu, kendati dari sisi harga posisi Clas Mild berada di bawah produk lainnya, tema komunikasi yang diusungnya tidak kalah. “Memang, upaya-upaya promosi yang kami lakukan hampir mirip dengan apa yang dilakukan kompetitor. Tetapi, kami tetap punya ciri khas yang membedakan dari rokok mild sejenis,” tukas John.

John menjabarkan, sama seperti pemain lainnya, Clas Mild juga banyak bermain dengan event. Namun, yang membedakan adalah pemilihan lokasi penyelenggaraan event itu. “Kami sering kali membuat event di tempat yang tidak biasa, misalnya di atap gedung pencakar langit,” ujarnya. Dengan menggelar event-event seperti itu, citra Clas Mild akan terangkat jauh lebih tinggi ketimbang aslinya. Bahkan, NTI pun tak ragu untuk membawa Clas Mild ke tempat nongkrong paling beken bagi anak muda Jakarta: Hard Rock CafĂ© (HRC), dengan mensponsori acara andalan HRC, I Like Monday.

Demikian juga dengan TV Commercial yang ditampilkan Clas Mild sama sekali tidak mencirikan bahwa produk ini ditujukan untuk segmen menengah-bawah. “Rokok mild punya target audiens yang sama dari demografi, tapi masing-masing merek mencoba mencari psikografi yang agak berbeda,” kata Andoko Darta, General Manager Adwork! EuroRSCG. Maka tak heranlah, masing-masing merek rokok mild ini keluar dengan tema iklan yang berbeda-beda, sesuai dengan target konsumen yang dibidik dan juga citra yang diharapkan tercipta dari komunikasi yang dilakukannya.

Dia mengatakan, sebagai pelopor di kategori ini, A Mild bisa menunjukkan kepemimpinannya. A Mild selalu tampil dengan iklan-iklan yang out of the box, dengan tema-tema yang sama sekali berbeda dari mainstream produk rokok.

Iklan memang menjadi arena perang tersendiri bagi kategori rokok mild. Setiap pemain dengan gagah berani menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk mengomunikasikan produknya di berbagai media, utamanya televisi. Tahun 2005, menurut catatan Nielsen Media Research ratusan miliar rupiah dihabiskan para pemain di kategori rokok mild ini.

Sebagai pemimpin pasar, A Mild juga memimpin dalam besaran dana yang dikeluarkan untuk promosi above the line. Tak kurang dari Rp 144,16 miliar dihabiskan HMS untuk mempromosikan mereknya di berbagai media. Dengan dana sebesar itu, harus diakui, A Mild memang lebih bernyali dibanding pemain lainnya dalam hal beriklan. Pasalnya, jumlah dana yang dikeluarkan pemain lain tidak mencapai separuh dari yang dikeluarkan A Mild. Clas Mild hanya mengucurkan Rp 61,63 miliar; Star Mild Rp 58, 89 miliar; LA Lights Rp 57,07 miliar; U Mild Rp 50,06 miliar; dan X Mild Rp 41,84 miliar.

Dominasi A Mild dalam belanja iklan nantinya mungkin akan disaingi oleh Mezzo, produk terbaru Djarum. Tahun lalu Mezzo memang hanya menggelontorkan Rp 20,26 miliar. Namun, itu hanya dalam waktu dua bulan (November dan Desember – Red.). Dan jika bercermin pada keberanian Djarum dalam beriklan, rasanya bukan tidak mungkin Djarum bakal mengguyurkan dana yang sangat besar untuk mendukung Mezzo. Gejalanya sudah terlihat di awal tahun ini. Pada Januari 2006, Mezzo tercatat sebagai merek yang belanja iklannya terbesar di kategori mild, yaitu Rp 6,97 miliar.

“Walau bukan satu-satunya faktor, ujung-ujungnya iklan harus bisa meningkatkan penjualan,” ujar Andoko. Karenanya, Andoko menyarankan agar para pemain untuk juga melakukan pascastudi untuk mengukur efektivitas iklan yang sudah dilakukannya. Misalnya ketika iklan sudah berjalan tiga sampai 6 bulan, dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah konsumen memahami pesan yang disampaikan dalam iklan itu. “Sayangnya jarang yang melakukan post study ini,” kata Andoko.

Selain iklan, event — khususnya event musik menjadi arena perang produk mild — hampir setiap merek mempunyai atau setidaknya menjadi sponsor pada ajang musik tertentu, baik event outdoor maupun tayangan TV. Aktivitas yang lagi-lagi dipelopori oleh A Mild ini boleh dibilang sangat mengena dengan target pasar rokok mild, yaitu anak muda. Tak heranlah, dalam menggelar aktivitas ini pun terjadi persaingan yang sangat kental.

“Di samping banyak event lainnya, Soundrenaline merupakan andalan kami. Ini semacam kegiatan musik woodstock-nya Indonesia,” kata Sendi bangga. Terakhir, A Mild menjadi sponsor utama penyelenggaraan konser tunggal penyanyi legendaris Lioner Richie.

Clas Mild sebagai pendatang baru pun tak kalah agresif dalam menyelenggarakan pagelaran musik. Di samping acara-acara rutin, seperti I Like Monday di HRC yang sudah masuk tahun ketiga, dan berbagai acara reguler lainnya, Clas Mild juga berani muncul pada acara berskala besar. Terakhir Clas Mild menjadi sponsor utama konser 3 Diva yang menampilkan tiga penyanyi wanita terdepan di negeri ini, Krisdayanti, Ruth Sahanaya dan Titi D.J.

Menurut Ruby Chandra Lionardi, Manajer Merek X Mild, kesamaan cara promosi yang melulu melalui jalur musik, merupakan ground untuk memudahkan masuk ke pasar. Alasan lainnya, musik dianggap merupakan cara komunikasi yang universal. “Lebih click dengan mereka (kaum muda – Red.),” ujar Ruby. X Mild sendiri menggeber promosinya lewat X Mild Noize Trailer Tour. Mengendarai truk trailer, X Mild berkeliling ke seluruh pelosok Nusantara. Di atas trailer itulah digelar pertunjukan musik rock hingga 100 kali di tahun lalu dengan menggandeng rocker-rocker Indonesia. Ada pula penayangan X Mild Noizze Ngejam di Global TV yang sudah berjalan mulai tahun lalu. “Yang tampil artis-artis rock, karena artis rock lebih ekspresif,” sambungnya.

Ginawati menambahkan, kendati sama-sama menggunakan musik, tetap saja target yang ingin dicapai berbeda-beda. “Sama-sama musik, tapi jiwanya disesuaikan dengan segmennya,” ia menuturkan. Walau begitu, lanjutnya, musik hanya menjadi salah satu kendaraan, masih ada kendaraan lain seperti olah raga dan berbagai kegiatan lainnya. Contoh, yang dilakukan Star Mild dengan Crush Bone Basket Ball.

Pertarungan di kategori rokok mild juga tak terlepas dari praktik bajak-membajak tenaga kerja. Yang paling menarik adalah gpertukaranh tokoh kunci antara BP dan HMS. BP menarik Surja S. Handoko dari HMS, sedangkan Sendi Sugiharto dari BP menyeberang ke HMS. Uniknya, sebelum mendarat di BP, Surja lebih dulu melakukan pendekatan untuk menarik Sendi dari BP. Namun kenyataannya, Surja lebih dulu hengkang ke BP sebelum Sendi mendarat di HMS.

Di samping dua nama tersebut, Warsianto sebagai arsitek rokok mild juga jadi perebutan. Kendati tidak lewat proses bajak- membajak, Warsianto hingga saat ini telah merasakan bekerja di tiga perusahaan rokok yang menjadikan mild sebagai andalannya, yaitu HSM, BP dan NTI yang bertahan hingga saat ini dengan jabatan Penasihat Senior.

Agresivitas pemain-pemain di kategori rokok mild sangat bisa dimengerti. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, kategori ini merupakan yang paling tinggi pertumbuhannya. Bahkan, bagi HMS, sejak tahun 2004, A Mild menjadi kontributor terbesar dari segi volume dengan mengalahkan Dji Sam Soe yang sudah puluhan tahun menjadi kontributor terbesar, yaitu lebih dari 30%. Namun, dari segi profit, A Mild memang masih kalah dibanding Dji Sam Soe. Pasalnya, cukai SKT memang jauh lebih kecil ketimbang SKM, yaitu 22% berbanding 40%.

Gemerlap persaingan rokok mild bukan tak menelan korban. Memang dari merek-merek yang dikeluarkan produsen besar hampir semuanya masih tetap beredar. Akan tetapi, kinerja penjualannya tidaklah sebaik yang diharapkan. Ambil contoh Bentoel Mild. Kendati masih tetap bertahan, merek ini nyaris tak terdengar. Bahkan, BP sendiri sepertinya sudah mengabaikan merek yang menyandang merek korporatnya sendiri. “Kami perusahaan publik yang harus memilih untuk memprioritaskan merek yang kami miliki. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk mendukung total Star Mild dan X Mild. Pada akhirnya kami harus memilih di tempat yang memberikan return tertinggi,” papar Ginawati diplomatis.

Hal yang sama sepertinya juga dialami GG. Saat ini Surya Signature juga tidak mendapat dukungan yang berarti. Bahkan menurut data Nielsen Media Research, di tahun 2006 (hingga Januari – Red.), GG tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk mengomunikasikan merek barunya itu. Namun demikian, sumber SWA di GG mengelak jika Surya Signature dikatakan gagal. Kendati enggan menyebutkan angka, ia mengatakan bahwa penjualan Surya Signature terus meningkat, khususnya untuk varian yang berwarna merah. “Untuk Surya Signature Biru memang agak seret. Mungkin pasar sudah memersepsikan bahwa ukuran mild adalah slim,” tukasnya.

Wismilak Slim setali tiga uang. Alokasi bujet untuk produk ini terus menurun dari tahun ke tahun. Dan seperti Surya Signature, hingga Januari lalu, produk ini sama sekali tidak melakukan kegiatan above the line. Ini bisa dilihat dari belanja iklannya yang nol pada periode itu. Wismilak belakangan malah semakin rajin mempromosikan produk cerutunya, meski pasarnya sangat niche.

Seleksi alami memang selalu berjalan. Nantinya, hanya produk yang benar-benar punya karakter yang akan bertahan hidup. Hingga hari ini, A Mild masih kokoh duduk di singgasananya dengan penguasaan pasar sekitar 50%. Layak dicermati, akankah Star Mild mampu merebut kembali predikat runner up yang dulu akrab dengannya dari tangan Clas Mild. Dan, ada baiknya kita tunggu kelanjutan dari perang sengit di kategori rokok ringan ini.

Artikel ini dimuat di Majalah SWA edisi 08/2006, 20 April 2006





Tuesday, March 3, 2009

Awal Mula Nama-nama Rokok

Pada zaman dahulu kala disebuah kerajaan nikotin yang bernama
Cigarilos, hiduplah seorang raja bernama Minak Djinggo dengan panglima perangnya
yang gagah perkasa : Commodore.
Raja yang memimpin dengan adil dan bijaksana ini mempunyai seorang putri yang cantik jelita
yang menjadi Mascot kerajaan, bernama Sri Wedari.

Suatu ketika putri sedang bermain-main dan berjemur di Long Beach,
tiba-tiba datanglah segerombolan koboi Marlboro di bawah pimpinan Mr.
Brown dan asistennya Mr. Davidoff. Koboi-koboi itu lalu menculik sang putri.

Beberapa waktu kemudian sang raja menerima surat ancaman dari sang
koboi yang isinya : “Wahai Raja, kalau baginda ingin sang puteri selamat,
Baginda harus menebus dengan uang sebesar US$ 555 juta. Kami tunggu Anda
disebuah Gudang Garam di kota Kansas. Jika anda tidak mau memenuhi permintaanku,
maka kami akan menusuk putrimu dengan Djarum Super sampai Bentoel dan
mengikatnya dengan Tambang Cap Upet !!! “.

Raja pun menjadi geram, sehingga diadakanlah sayembara untuk mencari
pendekar yang dapat menyelematkan sang putri.
Singkat cerita terpilihlah pendekar Sampoerna dengan senjatanya Gentong, Pusaka dan Pompa !!!.
Sang pendekar yang Cool rupanya pernah berguru dengan seorang suhu dari
negeri Tiongkok , bernama Dji Sam Soe dan dia mempunyai prinsip :
“Kalo bisa nomor 1 buat apa 2,3,4“..

Sang pendekar pun pergi menyeberangi lautan dengan kapal U.S.S Kennedy
dengan nahkodanya Marcopolo serta Ardath, seorang jurumudi kawakan
keturunan Java-American menuju medan laga untuk menyelamatkan sang
putri. Sebelum berangkat sang pendekar mohon pamit dan mohon doa restu.
“Wismilak, Suhu” kata sang pendekar. Dijawab oleh suhu : “Get Lucky, muridku”.
Sang raja pun berucap untuk sang pendekar “Lasta Masta ….yeah !!!!”.

Dengan mengendarai Mustang serta semangat kepahlawanan yang besar,
pendekar dari bukit Dunhill itu akhirnya berhasil menyelamatkan sang putri. Dia
pukul dengan senjata saktinya si koboi Marlboro Menthol Jauuuuh sekali.

Raja sangat gembira dan kemudian diadakanlah pesta semalam suntuk di
restaurant LA Light.

Pada saat makan malam berlangsung Sang Raja menghampiri sang pendekar
yang sedang murung. Raja berkata, “Wahai pendekar, Ini bukan basa basi lho,
pesta ini diadakan khusus untuk merayakan kemenangan anda,mengapa malah
murung???. Bukankah pendekar pernah bilang, “Asyiknya rame-rame !!??”.
Pendekar pun menjawab, “Pria punya selera“.
“Lalu apa maumu ? ” tanya sang raja.
Dijawab oleh sang pangeran, “Minta Krisdayanti dooong!!!”.

dari cerita teman-teman...

Rokok ga pake Korek

Rokok tanpa asap Ruyan V8 yang menghasilkan nikotin langsung ke paru-paru makin popular. Rokok elektrik ini menarik perhatian konsumen di China hingga AS. Tapi perkembangnya mengkhawatirkan badan kesehatan dunia WHO.

Ruyan V8 dipasarkan sebagai alternatif lebih sehat dibandingkan rokok biasa dan diklaim mampu menghentikan kebiasan buruk merokok. Rokok tanpa asap itu secara agresif diperkenalkan di penghargaan film Inggris selain juga di pameran perdagangan internasional.
Karena tidak perlu dibakar, produsennya mengklain tidak akan muncul gas serta bahan kimia yang bisa menyebabkan kanker seperti rokok pada umumnya. Selain itu rokok ini bisa dihisap di tempat yang ada larangan merokok.

Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) September lalu mengingatkan tidak ada bukti e-cigarette bisa sebagai pengganti rokok atau membantu perokok berhenti dari kebiasannya.
Selain itu WHO juga meminta produsen agar berhenti melakukan promosi seperti itu. Produk seperti itu mengganggu upaya pencegahan merokok dan menarik orang yang bukan perokok termasuk anak kecil.
"Tidak ada bukti kuat produk itu aman dikomsumsi manusia," kata Timothy O'Leary, pejabat Inisiatif Tanpa Tembakau WHO di Genewa.

WHO khawatir karena kurangnya informasi mengenai penelitian terhadap bahan yang dikandung e-cigarette. Selain itu juga dampak terhadap kesehatan jangka panjang.
Beda dengan terapi pengganti nikotin yang lain, seperti dengan dimasukkan lewat kulit, permen atau dihirup dan semprotan ke mulut, e-cigarette hingga kini belum melalui penelitian menyeluruh.
Nikotin bisa menimbulkan kecanduan. Zat itu menyebabkan terlepasnya zat kimia yang ada di otak dan membuat perasaan bahagia yang disebut dopamine. Tapi juga meningkatkan penyakit jantung dan tekanan darah.

Ruyan yang berarti "seperti merokok" diperkenalkan sebagai rokok elektronik pertama pada 2004. Produk ini memiliki paten teknologi atomisasi ultra sonik dimana nikotin dimasukkan tempat yang berisi propylene glycol. Cairan ini juga digunakan pada mesin asap di nightclub.
Saat perangkat menggunakan baterai ini dinyalakan, atomisasi akan mengeluarkan semprotan yang membentuk asap. Perusahaan bermarkas di Hong Kong Ruyan mengeluh teknologinya itu sudah dibajak oleh China dan negara lain.
Kebanyakan produk ini dijual lewat internet, dimana ribuan retailer memesan dari seluruh dunia. Harga produk ini US$60 hingga US$240 terdiri dari charger baterai serta cartridge dengan aneka rasa mulai dari buah-buahan hingga menthol.[ito]INILAH.COM


Sunday, March 1, 2009

Lupakan Masa Lalu!

Jurus-Jurus Menentang Arus

Saya sengaja mencari artikel tentang pertanggungan jawab saya mengenai acuan strategi yang pernah saya terapkan dalam salah satu perusahaan yang saya pegang dulu. Saya mencoba menjawab dengan sedikit di imbangi teori ilmiah dan contoh perilaku para enterpreneur Indonesia. Yaa.. baru sekarang saya mencoba membuka diri untuk menjelaskan sedikit ilmu kepada para Manager saat ini yang memegang, karena mungkin mereka penasaran saya mampu meningkatkan nilai dan demand yang sangat tinggi dalam kurun waktu 4 tahun dengan menaikan penjualan 800%. Angka yang fantastis. Saya yakin mereka sangat mengagumi hasil karyaku dan mencoba untuk menyaingi karya besarku. Ini sebagian contoh yang saya kemukakan untuk kalian....

“Untuk mencapai sukses, tak usah meniru sukses masa lalu. Sebagian pebisnis menerapkan jurus-jurus bisnis yang tak lazim dan bertentangan dengan teori. Mereka sukses karena menerapkan jurus-jurus bisnis yang menentang arus”

Antrean di sebuah counter BreadTalk di Mal Kelapa Gading, Jakarta, itu tampak mengular. Panjang. Mereka rela antre hanya untuk dapat mencicipi sepotong roti bertabur abon. Untunglah, sambil antre, mereka masih terhibur melihat “atraksi” pembuatan roti di dapur yang dindingnya transparan.

Dapur transparan, bukankah itu melanggar tradisi? Bukankah itu sama saja dengan membuka rahasia dapur? Bukankah itu menentang arus? Apalagi kebanyakan toko roti selama ini selalu meletakkan dapur di belakang. Salah satu tujuannya adalah agar tak mudah dilihat pesaing. Lagi pula, banyak orang menganggap tabu kalau pembeli bisa melihat suasana dapur, yang biasanya jorok, kotor, dan berantakan. Anggapan itu justru “ditabrak” BreadTalk.

“Dengan konsep open kitchen, BreadTalk ingin menjadi sebuah butik roti yang ingin bisa menyatukan rasa, pikiran, dan mata,” kata Sugiyanto Wibawa, vice-president director PT Talkindo Selaksa Anugrah, nama perusahaan pemegang hak waralaba BreadTalk di Indonesia. Meski Sugianto mengaku bahwa konsep open kitchen berasal dari Singapura, nyatanya apa yang ia lakukan kemudian diikuti oleh beberapa toko roti lainnya di Tanah Air.

Menentang Arus, Apa Itu?
Menurut associate consultant MarkPlus&Co, Yuswohady, jurus-jurus bisnis menentang arus kerap disebut sebagai blue ocean strategy. ” Blue ocean strategyadalah strategi yang biasanya diterapkan dalam sebuah arena bisnis, di mana kondisi pasar atau lautnya masih berwarna biru, terbuka, karena belum banyak pemain yang menggarap,” papar Siwo, panggilan akrab Yuswohady. Jadi, lanjut dia, bisa dikatakan bahwa blue ocean strategy adalah strategi yang radikal, gila, dan cenderung menentang arus bisnis yang ada.

Dalam kasus BreadTalk, jurus menentang arus yang dipakainya adalah tak sekadar mengandalkan kenikmatan rasa rotinya, seperti toko-toko roti lainnya di Indonesia. “BreadTalk berani menabrak tradisi dapur tertutup, dan terbukti bisa memainkan emosi konsumen dengan konsep keterbukaan dapurnya,” jelas Siwo.

Selain BreadTalk, fenomena menentang arus juga dipakai Putera Sampoerna ketika mengeluarkan rokok rendah tar dan nikotin, A Mild, pada 1990-an. Langkah Putera ketika itu terbilang berani. Pasalnya, saat itu pasar rokok Indonesia masih didominasi oleh rokok kretek. HM Sampoerna bahkan dikenal sebagai salah satu produsen rokok terbesar yang sukses dengan rokok kretek merek Dji Sam Soe dan Sampoerna Eksklusif. “Namun, demi menghidupkan pasar A Mild, Putera Sampoerna malah memutuskan untuk mematikan produk Sampoerna Eksklusif,” ujar Sendi Sugiharto, head manager of Category Low Tar Low Nikotin. Sebuah langkah berani dan penuh risiko.

“Rokok A Mild adalah bukti keberanian Putera Sampoerna untuk melupakan kesuksesan HM Sampoerna dengan kejayaan rokok kreteknya,” ucap Siwo. Padahal, biasanya orang kalau sudah sukses, mereka akan menggunakan strategi bisnis atau membuat produk yang tak jauh berbeda dengan kesuksesan masa lalunya. Gampangnya, ngapain mesti repot-repot kalau bisa menjiplak strategi bisnis sebelumnya. Namun, untuk Putera Sampoerna, ia malah mempraktekkan jurus menentang arus: lupakan sukses masa lalu.

Dalam dunia dengan persaingan yang makin keras, berbisnis dengan cara-cara yang biasa jelas tak memadai lagi. Produk harus unik. Strategi jangan sampai mudah dikenali lawan. Itu pulalah yang diterapkan oleh Bob Sadino, pemilik sekaligus pendiri Kemchicks Supermarket, yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Bob dikenal sebagai pengusaha yang anti manajemen. “Saya selalu menganalogikan bisnis itu seperti sungai yang penuh kebebasan, tanpa perencanaan, bahkan tanpa arah tujuan yang hendak dicapai,” kata pria yang khas dengan celana pendeknya itu.

Bob tak pernah memakai rencana, atau mematok target. Untuk masalah keuangan di Kemchicks Supermarket pun Bob tak pernah ikut campur. Semua pengelolaannya ia percayakan kepada karyawan, yang oleh Bob disebut sebagai “anak-anaknya”. “Jadi, kalau Kemchicks untung Rp100 miliar, ya terserah anak-anak saja, mau dihabiskan untuk apa saja,” katanya, serius. Bob memang memberikan kebebasan penuh kepada 350 karyawannya untuk bekerja sesuai keinginan mereka. Meski serba tak masuk di akal, toh terbukti hingga kini Kemchicks, Kemfood, dan Kemfarm masih eksis.

Cara aneh membesarkan usaha juga dilakukan oleh Purdi E. Chandra. Ia termasuk orang yang percaya bahwa kalau ingin sukses tak perlu pendidikan formal. Namun, ketika Purdi mendirikan Entrepreneur University dengan cara itu, banyak orang mengerutkan kening. “Kuliah di Entrepreneur University modelnya tanpa ijazah. Mahasiswanya baru bisa diwisuda kalau sudah berhasil membuat usaha sendiri,” kata Purdi. Jadi, kalau ingin sukses seperti Purdi, yang mantan anggota MPR RI ini, lupakan pendidikan formal. Ijazah itu tak penting.

Sudah tentu masih banyak jurus menentang arus yang bisa dipetik dari berbagai kasus. Misalnya, ada fenomena kaus Dagadu dari Yogyakarta yang tak mau ekspansi ke luar dari Kota Gudeg itu. Lalu ada Joger dari Bali, strategi harga tiket murah ala Lion Air, gratis kartu prabayar As, dan sebagainya.

Melihat Dari Sisi Yang Berbeda
Lalu, apa yang bisa dipetik dari beberapa jurus bisnis menentang arus tadi? Sukseskah? Kafi Kurnia, pakar bisnis dan pemasaran dari Inbrand, memberi gambaran gunanya memakai jurus menentang arus. “Dalam berbisnis, kadang kala, kita mesti berpikir secara holistik atau dari dua sisi,” katanya. Jadi, ibarat koin, melihatnya harus dari dua sisi secara bersamaan.

Cara ini biasa digunakan orang-orang yang mengalami kemacetan saat menjalankan teori-teori bisnis dari bangku pendidikan. “Sebab, di dunia ini sebenarnya banyak teori bisnis yang hanya melihat dari satu sisi. Padahal masih ada sisi yang lain, yang berbeda sama sekali,” kata Kafi, yang juga penulis buku Anti Marketing –sebuah buku tentang jurus-jurus pemasaran yang edan, ngawur, tapi kreatif. “Ibaratnya, kalau menemui jalan yang mulai macet, supaya mobilnya tetap jalan, ya harus mencari jalan alternatif,” kata pria berambut jabrik ini. Jadi, meski dianggap nyeleneh, sebenarnya jurus-jurus menentang arus bisa dijadikan alternatif dari teori bisnis yang ada.

Namun, yang patut diingat, memakai jurus-jurus menentang arus bukan tanpa risiko. Untuk mengenalkan cita rasa rokok mild, misalnya, membutuhkan waktu 3-5 tahun. “Sampai 1995 saja A Mild belum dikenal konsumen. Buktinya, kalau kami membagi-bagi sampel gratis pun masih ada konsumen yang tidak mau,” tutur Sendi Sugiharto. Salah satu kendala yang paling berat untuk mendorong kesuksesan A Mild, tambah Sendi, adalah terus meyakinkan pasar.

Akhirnya Sampoerna memutuskan untuk melakukan edukasi pasar dan terus meyakinkan tim pemasaran dan wiraniaganya agar mau terus menjual. Hasilnya tidak sia-sia. Dengan brand “Bukan Basa Basi”, tahun 2004 A Mild bisa menguasai 8% pangsa pasar rokok mild, atau lebih dari 200.000 batang per tahun. Ia diikuti oleh para pesaingnya, seperti Star Mild dan X Mild (Bentoel), LA Light dari Djarum Kudus, dan yang terakhir Gudang Garam Nusantara.

Menurut Siwo, menerapkan jurus menentang arus memang berisiko. Salah satunya, harus mau mengedukasi pasar. “Tak mudah mengubah keinginan pasar yang masih perawan, alias blue ocean,” ungkap alumnus Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada ini. Risiko selanjutnya adalah kemungkinan langsung ditiru oleh kompetitor, seperti dalam kasus A Mild dan BreadTalk.

Memang begitulah, sesuai namanya, yaitu menentang arus, sudah pasti jurus ini akan berhadapan melawan arus. Untuk berhasil, yang menerapkannya mesti punya tenaga ekstra. Namanya saja menentang arus. Jika tanpa tenaga ekstra, ia malah bakal hanyut terbawa arus … lalu tenggelam.


Jurus-Jurus Menentang Arus Itu ….

Lupakan Sukses Masa Lalu
Tak ada kesuksesan yang abadi. Sebelum masa suram itu tiba, mulailah dari sekarang untuk melupakan masa lalu (baca: kesuksesan Anda). “Salah satu langkah awal membuat jurus menentang arus adalah melupakan formula, strategi, dan semua sendi-sendi kesuksesan perusahaan atau bisnis di masa lalu,” ungkap Yuswohady. Sebab, biasanya, keberhasilan masa lalu bisa dengan mudah diikuti oleh para kompetitor. Sebagai generasi ketiga, Putera Sampoerna mau melupakan kejayaan rokok kreteknya dengan meluncurkan A Mild.

Tabrak Saja Tradisi
Siapa yang bakal mengira bisa melihat cara membuat roti di sebuah mal? Dengan konsep open kitchen, BreadTalk sukses menggabungkan pikiran, rasa, dan mata. Atau, Anda mungkin masih ingat pada 1980-1990, tren minuman dalam kemasan banyak yang berbentuk botol. Namun, Extra Joss justru berani membuat minuman kemasan sachet. Sukses ternyata bisa dicapai kalau ada keberanian menabrak tradisi.

Anti Manajemen
Jargon ini terkesan ekstrem. Teori manajemen mengajarkan pentingnya perencanaan, target, eksekusi, dan evaluasi. Namun, Bob Sadino justru bertolak belakang. Ia tak pernah memakai ilmu manajemen. “Sebenarnya langkah bisnis saya adalah langkah seribu,” gurau Bob. Tak ada manajemen, feeling, atau insting yang dipakai Bob dalam berbisnis.

Distribusi Itu Tidak Penting
Sukses sebuah produk sangat tergantung pada distribusinya. Namun, ini tak berlaku bagi kaus Dagadu di Yogyakarta dan kaus Joger dari Bali. Semua orang mengakui bahwa dua produsen kaus itu dikenal kreatif memainkan kata-kata. Namun, Dagadu dan Joger tak pernah mau membuka cabang di kota lain. Cara ini justru membuat produknya laris dan banyak dicari. Kaus Dagadu diproduksi 5.000-10.000 potong per bulan. Akibat pembatasan distribusinya, mereka yang ingin memilikinya harus datang ke Yogya atau Bali.

Lupakan Ijazah, Lupakan Sertifikat
Purdi E. Chandra, pendiri sekaligus dirut Primagama, sukses membesarkan lembaga bimbingan tes-nya yang kini beromzet Rp100 miliar per tahun. Kunci sukses Purdi justru tidak mengandalkan ilmu pendidikan formalnya. “Jadilah pengusaha yang cerdas di lapangan, di jalanan, dan berani menentang teori dari sekolah formal,” katanya.

Harga Tak Usah Masuk Akal
Lion Air berani membanderol harga tiket pesawat 50% lebih murah dari semua harga tiket pesawat yang berlaku di semua maskapai saat itu. Hal serupa terjadi untuk pembelian kartu perdana dari IM3 dan Kartu As dari Telkomsel. Dengan harga beli Rp 15.000, konsumen bisa mendapatkan nomor perdana dan pulsa senilai Rp 25.000.

Tak Perlu Menjadi yang Pertama
Tak selamanya menjadi yang kedua, atau pengikut, selalu gagal. Dalam kasus internet banking, meski LippoBank yang menjadi pionirnya, kini justru BCA yang memimpin. Begitu juga dengan bisnis kartu kredit. Pencetusnya adalah Bank Duta, tetapi kini yang menikmati booming kartu kredit adalah Citibank.

Dikutip dari Majalah Warta Ekonomi Edisi 8 Agustus 2005.



Saturday, February 28, 2009

Rokok Tidak Berbahaya!

Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah diselidiki oleh beberapa pakar dalam bidangnya ternyata rokok itu sama sekali tidak berbahaya. Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala di mana pada waktu itu nenek moyang kitapun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan, buktinya Seperti cerita di bawah ini, dia tetap sehat walafiat. Untuk lebih jelasnya dapat dibuktikan lewat penemuan oleh beberapa dari ahli di bawah ini:
Pada zaman dahulu kala, Ada tiga orang dokter. Mereka Selalu bersama kemana saja mereka pergi. Tapi Ketiga-tiganya memiliki kegemaran berlainan.

A. Dr Deni (suka main perempuan)

B. Dr Dharma (suka minum minuman keras)

C. Dr Hengky (suka segala jenis rokok)

Suatu Hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan. Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah Ketel/kendi (seperti cerita Aladin). Lalu salah seorang mengambilnya lalu menggosok-gosokkan Ketel tersebut. Sejurus kemudian ASAP keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti menjadi satu mahluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: “Ha ha ha…” dan berkata “Akulah Jin Ifrit! Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka Aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian.” Ketiga sahabat yang pada mulanya panik Dan takut menjadi gembira lalu termenung berpikir tentang peluang dan kemauan masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup mereka.

Lalu mereka Memilih kemauan mengikuti kegemaran masing-masing.

Berkatalah si A, “Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa di seluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.” Pufff ……..!! Dengan sekejap Mata jin itu menyempurnakan permintaan si A.

Berkata siB, “Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun Dan letakkan dalam sebuah gua tertutup Dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.” Pufff ……… !! Dengan sekejap Mata jin itu menyempurnakan permintaan si B.

Berkata pula si C, “Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.” Pufff ………. !! Dengan sekejap Mata jin itu menyempurnakan permintaan si C.

Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan. Maka jin tersebut pergi membuka pintu gua si A, ketika dibuka maka keluarlah si A dengan keadaan kurus kering, berdiripun tidak bisa karena tidak sanggup untuk menggerakkan lutut sebab Hari-Hari hanya memuaskan nafsu dengan perempuan. Tiba-tiba si A pun jatuh ketanah lalu mati!!

Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si B, ketika pintu dibuka maka keluarlah si B dengan perut yang sangat buncit karena hari-hari mabuk-mabukan. Jalanpun terhuyung-huyung. Tiba-tiba si B pun jatuh ketanah lalu mati !!

Setelah itu jin pergi ke gua si C Dan membuka pintu gua. Tiba-tiba si C keluar dalam keadaan sehat walafiat dan terus MENAMPAR si jin sambil memaki si jin, ia berkata: “JIN GUOBLOOOKK ….!!!! KOREKNYA MANA …???”

Moral cerita: “Rokok tak berbahaya sepanjang tidak ada koreknya.“


1001 Pendapat Rokok

Naaah... di sini pendapat-pendapat mengenai pro dan kontranya tentang rokok. Ada yang tahu bahaya rokok tapi tetap merokok, ada yang bingung apa enaknya rokok, adapula yang bingung mengapa rokok beracun, di sini saya kutip sebagian teks mereka dan saya link kan ke alamat postingannya. Setiap paragraph adalah satu postingan yang berbeda.Walau tidak mungkin semua pendapat saya kutip tapi minimal kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda mengenai pendapat mereka tentang rokok. Tapi ada satu kisah yang menceritakan bahwa rokok ga berbahaya lho.Tentunya kita lebih bijaksana andai kita mendengar dan melihat dari sudut pandang yang berbeda sebelum kita memutuskan kesimpulan yang mungkin dapat menjadikan jalan tengah yang baik mengenai Pro dan Kontra Fatwa Haram Rokok oleh MUI.

Nah, disinilah pokok permasalahannya. Gejala awal stress bisa diobati, salah satunya adalah dengan rokok. Jadi kesimpulannya, dengan mengkonsumsi rokok dapat meredakan stress. Dengan redanya stress, bisa menghindarkan kita dari gangguan psikis, yang secara otomatis menghindarkan kita dari stroke. Logikanya begitu khan?? Namun tentu ada pembenaran lain yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ulasan tidaklah banyak berarti jika dibandingkan dengan penelitian yang ilmiah. Jadi, its all up to you guys. The choice is yours….

Anehnya walaupun telah dinyatakan berbahaya namun kuantitas perokok tidak kunjung berkurang bahkan cenderung bertambah. Berdasarkan data Susenas 2001, Pravalensi perokok pada laki-laki sebesar 62,2 % dan perempuan 1,7 %. Angka ini meningkat drastis dibandingkan tahun 1995, dan diperkirakan beberapa tahun mendatang akan terus meningkat seiring getolnya promosi-promosi rokok di media-media.

seharusnya,, bagi para perokok ( mungkin seperti saya) di berikan pertanyaan : apakah alasan jitu stop merokok,, yang konon merokok berbahaya bagi kesehatan,
banyak bukti ilmiah juga menyebutkan, berhenti merokok akan membuat tubuh lebih sehat,, makanan pun bisa di terima tubuh dengan baik, karena metabolisme lebih lancar,,, keluhan batuk juga menghilang.
yang pasti, tubuh jadi lebih sehat, hanya dalam hitungan menit setelah Anda lepas dari kebiasaan merokok,, yang dilihat seiring dengan berjalannya waktu, berikut ini :

Kelegaan yang anda nikmati dari setiap batang rokok hanyalah sementara dan gejala-gejala tersebut akan kembali semula. Anda kemudian akan menyalakan sebatang lagi rokok dan tidak lama kemudian , anda menjadi ketagihan kepada nikotin.
Secara perlahan nikotin akan mengakibatkan perubahan pada sel-sel otak perokok yang menyebabkan anda merasa perlu merokok lebih banyak untuk mengatasi gejala-gejala ketagihan
Bahkan rokok menjadi sumber pendapatan utama negara. Tidak percaya? Pajak cukai rokok dapat mencapai angka Rp 20.000.000.000.000,00 (20 trilyun rupiah) per tahunnya dan terus berkembang tiap tahunnya [1]. Berterimakasihlah pada para perokok yang telah mempertebal pundi-pundi kas pemasukan APBN.

Jadi dapat disimpulkan bahwa merokok merupakan kegiatan bodoh yang dilakukan manusia yang mengorbankan uang, kesehatan, kehidupan sosial, pahala, persepsi positif, dan lain sebagainya. Maka bersyukurlah anda jika belum merokok, karena anda adalah orang yang smart / pandai.
Ketika seseorang menawarkan rokok maka tolak dengan baik. Merasa kasihanlah pada mereka yang merokok. Jangan dengarkan mereka yang menganggap anda lebih rendah dari mereka jika tidak ikutan ngerokok. karena dalam hati dan pikiran mereka yang waras mereka ingin berhenti merokok.

Kata banyak orang yang saya temui, untuk stop merokok itu tidak bisa dengan mengurangi, tetapi harus langsung stop tidak merokok sama sekali. Apa iya? Saya mungkin salah satu orang yang ingin membuktikan bahwa stop merokok bisa melalui tahap mengurangi hingga sama sekali tidak merokok. Tips dibawah ini sudah saya lakukan dan sudah terbukti secara signifikan mengurangi kebiasaan merokok. Dulu saya bisa menghabiskan 2 sampai dengan 3 bungkus rokok dalam sehari, saat ini saya mengabiskan 1 bungkus rokok untuk waktu 1 minggu bahkan lebih. Terkadang rasa rokok juga sudah menjadi asem karena terlalu lama terbuka.
Berikut tips mengurangi rokok:

Nilai InvestasiTembakau Papi Ploso

Rokok suatu barang yang fenomenal karena pembicaraan yang hangat saat ini karena terdapat pro dan kontra, tapi rokok masih termasuk barang primer yang masih banyak di cari masyarakat. Keberadaan rokok masih tetap di butuhkan karena selain membuka lapangan kerja juga sebagai penghasil pajak terbesar bagi Negara dari nilai cukai rokok. Kota Malang adalah kota di mana perusahaan rokok paling banyak se Jawa Timur dan perusahaan rokok terbanyak ke 2 seluruh Indonesia setelah Kota Kudus, Jawa Tengah.
Prospek di bidang ini masih sangat terbuka lebar. (Di Asia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa). dan terbanyak pertama dunia perokok remaja.
Tembakau adalah salah satu bahan baku utama pembuatan rokok di samping chaos dan cengkeh. Terdapat 47 jenis tembakau yang tersebar di nusantara ini, salah satunya adalah tembakau Pakpi. Tembakau ini termasuk tembakau jawa yang pengolahannya terbagi atas empat cara dan di sebuat sebagai Hang Pakpi, Rajangan Pakpi Ploso (RPP), Krosok pakpi (Janturan) dan NS-0.

Tembakau ini di hasilkan di daerah ploso jombang dan terbagi atas dua jenis tembakau pakpi yaitu Pakpi Jinten (Sambujo) dan Pakpi Manila. Semua jenis dan sistem pengolahan yang berbeda beda tersebut mempunyai tujuan pemasaran dan komposisi bahan baku rokok yang berbeda pula. Setiap pabrik mempunyai selera yang berbeda-beda karena akan berpengaruh terhadap rasa rokok tersebut. Keunikan tembakau jenis ini adalah rasa dan aroma yang khas sehingga semua jenis rokok kretek pasti memakai tembakau Pakpi.

Tembakau Pakpi di pakai oleh semua jenis rokok kretek maka sangat terbuka prospek bisnis dalam penjualan tembakau jenis Pakpi karena selain kami sangat mengenal wilayah penanaman favorit, juga kami sangat mengetahui hasil tembakau yang baik dan dapat di terima oleh selera pabrikan pada umumnya.
Usaha jual beli dan penyedia tembakau jenis pakpi ini kami lakukan ketika kami mendapatkan kepercayaan dari beberapa pabrik besar, pabrik kecil dan supplier tembakau di daerah malang dan Sidoarjo untuk memilihkan dan mengirimkan tembakau ke tempat mereka masing-masing yang sebelumnya kami hanya mendapatkan fee dari pembelian dan penjualan tembakau tersebut. Berarti selama ini pembangunan relationsheep secara individu dan professional antara kami dengan konsumen sudah tercipta dan terbangun dengan baik. Hal ini akan memudahkan untuk penjualan karena market yang sebelumnya telah ada.

Di tahun ini kami berencana membeli tembakau hasil panenan langsung dari para petani dan pengepul yang sebelumnya hanya di beri modal oleh pabrikan tapi saat ini kamilah yang membelikan dan menyediakan tembakau untuk pabrikan sehingga akan mendapatkan keuntungan berlipat. Selain itupula kami dapat menyimpan tembakau tersebut selama minimal 1 tahun sampai tembakau benar-benar siap pakai sehingga harganya pun akan berlipat lagi karena pabrikan bisa langsung pakai tanpa harus menyimpan dan merawat tembakau tersebut terlebih dahulu.

Setiap tahunnya pabrik Sampoerna melakukan pembelian kurang lebih 15000 ton yang kesemuanya di sediakan oleh pengepul kepercayaan Sampoerna dan telah 15 tahun kami adalah salah satu partner terpercaya sebagai rekanan pembelian tembakau Pakpi baru. Saat ini kapasitas kami hanya mampu menyediakan tembakau baru sekitar 1000 ton pertahun. Sedangkan untuk penyediaan tembakau baru untuk pabrik kecil dan pengepul di Sidoarjo dan Malang kami sanggup menyediakan kurang lebih 700 ton dengan stagnan stok dan 400 ton dengan perputaran normal. Maksudnya dari pembayaran tunai 400 ton awal kami belikan lagi tembakau untuk memenuhi kebutuhan mereka sampai terpenuhi 700 ton. Penjualan tembakau ini karena terbinanya hubungan baik dan saling mempercayai antara kami dan suplier yang telah di bina selama bertahun-tahun.

Pembelian dari petanipun harus dilakukan dengan uang tunai walau penjualan kami tunai tetapi terdapat jeda waktu yang sangat signifikan walaupun hanya sekitar 7 sampai 12 hari.
Dalam pembelian tembakau baru panen dimana pabrikan Besar seperti Sampoerna membuka pembelian, banyak hal yang bisa kita dapatkan selain nilai selisih antara pembelian dengan penjualan.
Karena pengalaman dan keahlian yang kami miliki kami dapat memprediksi gread tembakau di saat pembelian gread rendah tapi kami bisa memprediksi gread tersebut dapat di terima oleh pabrikan besar dengan harga gread yang lebih tinggi. Sehingga memberikan celah mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar.

Hal yang mungkin terjadi adalah di saat tembakau tersebut di sortir pabrikan adalah terjadinya tembakau afkir atau tembakau yang tidak memenuhi syarat di pakai oleh pabrik, banyak hal yang mempengaruhi penilaian tersebut, selain suasana hati sang Greader,istilah untuk orang yang memilih tembakau, juga terpengaruh oleh aroma dan warna tembakau. Tapi dengan keahlian dan pengalaman kami hal tersebut dapat di minimalisir sehingga tembakau afkir akan terjadi maximal 5% dari total jumlah pengiriman.
Tembakau afkir tersebut sudah pasti terjual kepada pabrikan yang lebih kecil yang sudah kami bangun sebelumnya yang saat ini sudah order rutinitas minimal 700 ton per musiman. Hal ini memberikan keleluasaan untuk melakukan pembelian lagi dari petani disaat pabrik besar sudah tutup gudang, saat inilah tembakau yang ada mengalami penurunan yang sangat signifikan yang biasanya mencapai 50%. Hal ini akan menurunkan beban modal yang sebelumnya telah diafkir dengan harga yang tinggi. Strategi ini sangat tepat dan tidak di miliki oleh kebanyakan pembeli dan ini adalah kesempatan yang sangat baik karena nilai lebih kami yang telah menjalin hubungan dengan banyak pabrik lainnya.

MODAL USAHA :
Modal yang di perlukan adalah Rp 4.000.000.000 ( Empat Milyar Rupiah).

PEMASARAN
1. Produk dan Segmentasi
Tembakau jenis Pakpi yang sesuai dengan selera konsumen dan pemenuhan kapasitas kebutuhan tembakau pakpi yang berkualitas.Segementasi usaha ini adalah Pabrik besar seperti Sampoerna, Bentoel dan Djarum, pabrik-pabrik kecil dan menengah di kota malang dan Sidoarjo juga penyediaan barang untuk Suplier besar di kota Malang yang menjalin kerja sama sebelumnya.
2. Permintaan
Sampoerna rata-rata setiap tahun memerlukan Kurang lebih 15.000 Ton dan hanya membeli dari pengepul atau mitra terpercaya, dan kami adalah salah satu mitra terpercaya Sampoerna.
3. Perkiraan Permintaan
Kualitas tembakau sangat rentan dan terpengaruh secara signifikan oleh cuaca dan suhu wilayah, diperkirakan panen tahun ini akan sangat baik karena cuaca yang akan bersahabat seperti halnya tahun 1989, 1999, 2006dan 2009. Ini akan sangat mempengaruhi permintaan yang sangat banyak. Hal ini juga di pengaruhi oleh panen tahun lalu yang kurang memuaskan dan mengalami penurunan permintaan. Sehingga pembelian tahun ini akan meningkat untuk memenuhi stok yang kurang di tahun lalu.
4. Pesaing
Pesaing sangat sedikit sekali karena kami adalah salah satu mitra Sampoerna terpercaya sejak 15 tahun lalu dan kurangnya pesaing di sebabkan modal yang sedikit dan kurang memahami karakter tembakau yang di inginkan.

TEKNIS
Lokasi Usaha
Dilaksanakan di daerah penghasil terbaik jenis tembakau ini yaitu di daerah Kabuh Jombang

KEUANGAN
Analisa Keuangan
Dalam analisa investasi kami menggunakan 2 metode, yaitu:
1. Payback Period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali investasi dengan menggunakan keuntungan ditambah penyusutan. Payback Period usaha ini adalah 6 Bulan.
2. Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat bunga yang akan menjadi nilai sekarang dari proceeds yang diharapkan yang akan diterima, sama dengan nilai sekarang dari pengeluaran modal. IRR yang baik jika lebih besar dari tingkat suku bunga Bank. IRR dalam 12 Bulan adalah 18%.

METODOLOGI
Metode yang di gunakan adalah:

Likuiditas
adalah ukuran kemampuan usaha dalam memenuhi kewajiban lancarnya, minimal 1 atau 100%.

Profitabilitas
Kemampuan usaha dalam menghasilkan laba dengan jumlah harta yang telah ditanamkan, dapat diukur dengan ROI (Rate of return Of Investment) dan ROE (Rate of return On Equity). ROI dan ROE yang baik lebih besar dari suku bunga bank.
Bulan ROI ROE
Bulan -1
Bulan -2
Bulan -3
Bulan -4
Bulan -5
Bulan -6-10%
Terlihat ROI dan ROE pada akhir pinjaman sudah lebih dari suku bunga bank dan makin meningkat sehingga dapat dinyatakan proyek ini layak dibangun.

PENUTUP
Benar-benar investasi yang menarik bukan?

Setelah beberapa hari saya posting catatan harian ini, teman-teman dari kalangan sendiri mencoba melacak no.HPku dan mereka sangat berharap untuk bisa bergabung dengan team saya dalam pembelian ini. Maka dengan ini saya hanya menulis artikel catatan harian dan berniat baik untuk berbagi pengalaman dan strategi. Bukan.. Bukan saya memerlukan sejumlah uang di atas. Keuangan, team dan strategi sudah seatle dan mantap terbentuk sejak lama... Mohon maaf Sobat!